Surabaya|(Persindependent.com), - Kebun Binatang Surabaya, Saat Yang Seharusnya Menjaga, Justru Menghianati: Rp10,2 Miliar Dana Pakan Satwa Korupsi, "Mereka Bisu, Tapi Penderitaannya Berteriak" Kebun binatang seharusnya menjadi rumah kedua bagi satwa.
Tempat mereka makan layak, dirawat dengan kasih, dan hidup dengan martabat. Namun apa yang terjadi di Kebun Binatang Surabaya justru sebaliknya.
Mantan Direktur Utama KBS, Choirul Anwar, resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh aparat penegak hukum. Dugaan kasusnya: korupsi dana operasional sebesar Rp10,2 miliar untuk periode 2016 - 2024.
Angka yang Menyakitkan, Dari total dana itu, diduga Rp7,4 miliar tidak sampai ke kandang. Uang yang seharusnya menjadi rumput, daging, vitamin, dan obat-obatan, justru diduga mengalir ke kantong pribadi.
Padahal setiap rupiah itu adalah nyawa.
Setiap rupiah itu adalah pakan untuk singa yang mengaum, gajah yang mengibas telinga, burung yang seharusnya terbang, dan monyet yang seharusnya bergelantungan.
Korban yang tak bisa bicara,Akibatnya pilu. Banyak satwa mengalami kekurangan gizi. Tubuh mereka kurus, tulang menonjol, mata sayu. Ada yang mati sia-sia karena tidak mendapat perawatan layak.
Mereka tidak bisa protes. Tidak bisa melapor. Tidak bisa bersuara di pengadilan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah bertahan. sampai tidak kuat lagi.
Sungguh, ini bukan sekadar kasus korupsi. Ini adalah pengkhianatan terhadap makhluk yang dititipkan Tuhan untuk kita jaga.
Hukum harus berbicara lantang, Penetapan tersangka ini adalah langkah awal. Negara melalui hukum harus menunjukkan bahwa nyawa satwa juga berharga. Bahwa uang rakyat yang diamanahkan untuk merawat kehidupan, tidak boleh diselewengkan.
Kami percaya, keadilan bukan hanya untuk manusia. Keadilan juga untuk semua makhluk yang tidak bersalah.
Catatan WartaNarkas: Dermawan adalah menjaga yang lemah Wibawa seorang pemimpin diuji bukan saat ia berkuasa. Wibawa diuji saat ia diberi kepercayaan untuk menjaga yang tidak bisa membela diri.
Dermawan adalah memberi makan yang lapar. Bijak adalah tahu bahwa kekuasaan adalah titipan. Keren adalah ketika jabatan digunakan untuk menolong, bukan menguras.
Hari ini kita berduka. Bukan hanya karena uang negara hilang. Tapi karena ada nyawa-nyawa tak berdosa yang menjadi korban keserakahan.
Semoga kasus ini menjadi pelajaran terakhir. Agar ke depan, tidak ada lagi kandang yang kosong dari pakan. Tidak ada lagi mata satwa yang memandangi kita dengan lapar. Dan tidak ada lagi manusia yang tega mengorbankan kehidupan demi keuntungan pribadi.(Wb)




